Komoditas Unggulan NTB Rambah Pasar Eropa Tengah dan Timur

Senin 14 Maret 2016 22:35:39 WIB Dilihat : 368 Kali


Komoditas Unggulan NTB Rambah Pasar Eropa Tengah dan Timur

HALUANNEWS-Dalam rangka memanfaatkan potensi ekonomi dan perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melakukan penetrasi pasar ke negara-negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur, Kementerian Luar Negeri bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB memandang perlu upaya menggenjot pangsa pasar potensi komoditas ke luar negeri.

Hal ini mendorong Direktorat Eropa Tengah dan Timur Kemlu menyelenggarakan temu bisnis dan kunjungan kerja di Hotel Lombok Raya, Mataram (10/3). Temu bisnis dihadiri sekitar 80 peserta yaitu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKDP) di lingkungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di NTB.

Direktur Eropa Tengah dan Timur (ETT) menyampaikan beberapa komoditas potensial yang dimiliki NTB diminati oleh Belarus dan Georgia. Dua Negara pecahan Uni Soviet ini melirik komoditas unggulan NTB seperti kopi, rumput laut, jagung, udang, mutiara, kerajinan tangan, dan olahan pangan. "Selain itu, kedua Negara ini juga menawarkan investasi, dengan memanfaatkan Belarus sebagai pintu gerbang ke Negara sekitar," ucap T.B.H. Witjaksono Adji, Direktur ETT.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB H. Husni Fahri membenarkan komoditas unggulan NTB sangat diminati kedua Negara tersebut, khususnya hasil perikanan, pertanian dan perkebunan. Namun, NTB tidak ingin ketika mengekspor komoditas tersebut masih berupa barang mentah.

"Kita mau investasi, jika yang diserap adalah produk setengah jadi," tegasnya. Berdasarkan data yang dimiliki Disperindag NTB, lanjutnya, kinerja ekspor NTB ke negara Eropa non tambang mengalami peningkatan sangat pesat.

Dibandingkan tahun 2014 yang mencapai USD 1.932.974, ekspor NTB di tahun 2015 mencapai USD 27.872.668. "Mengalami kenaikan hingga 2.700 persen di sektor hasil perikanan, kerajinan tangan, dan pertanian," katanya.

Karena itu, guna meningkatkan ekspor, Disperindag menginginkan investor dapat berinvestasi di daerah. Contohnya, dengan membangun pabrik olahan rumput laut yang menghasilkan tepung atau keragenan. Demikian pula dengan jagung, dapat dibangun pakan ternak berbasis jagung. Semuanya harus melibatkan pelaku UMKM.

"Nilai tambah ini harus dinikmati pelaku UMKM di daerah," ucap Husni. Ia mengingatkan, pelaku UMKM bersama pemerintah bakal mengupayakan peningkatan standarisasi sesuai permintaan pasar.

Karena tidak menutup kemungkinan tiap negera memiliki persyaratan produk yang berbeda-beda, Husni berharap, pertemuan selanjutnya akan membahas hal-hal yang lebih teknis. Artinya, pelaku usaha di NTB diharapkan dapat bertemu langsung dengan pengusaha dari Eropa Timur dan Tengah.

Kedutaan dan konsulat memfasilitasi pertemuan tersebut. "Direktur ETT sudah janjikan untuk memfasilitasi dan mempermudah persyaratannya," katanya.

Di lain sisi, Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Y.M. Vladimir Lopato-Zagorsky, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam temu bisnis menyatakan bahwa Belarus memang bukan Negara penghasil sumber daya alam, apalagi hasil laut. Namun, Belarus memiliki fasilitas pengolahan hasil laut yang memadai sekaligus jaringan bisnis ke Uni Eropa yang besar untuk distribusi hasil laut.

"Jangan hanya melihat Belarus sebagai negara kecil dengan penduduk 10 juta. Tapi lihatlah Belarus sebagai negara yang mampu membuka pangsa pasar Indonesia ke Uni Eropa yang jumlah penduduknya jauh lebih besar," ujar Duta Besar Vladimir Lopato-Zagorsky.

Belarus, lanjutnya, telah lama menjadi mitra dagang Rusia. Namun, sejak krisis pada tahun 2008, Belarus mulai melirik Pasar Asia. Indonesia salah satunya. Tahun lalu nilai perdagangan Belarus dengan Indonesia mencapai USD 193,7 juta. Komoditas ekspor Indonesia ke Belarus, antara lain, karet, produk hasil laut olahan, dan minyak kepala. Indonesia paling banyak membeli dump truck dan traktor.

Perusahaan start up juga menjadi incaran Belarus. Pada April mendatang, Belarus siap melakukan investasi untuk perusahaan start updi Indonesia. Dalam program start up accelerator tersebut, Belarus menyiapkan modal USD 300 ribu untuk enam start up Indonesia. "Indonesia punya anak-anak muda berbakat dan banyak sekolah yang mendukung pengembangan IT," tutur Dubes Belarus.

editor : hi


Tag Berita :
#nasional #presiden #daerah #ekonomi #politik

Berita terakit :


Panglima TNI :  Spektrum Ancaman Perkembangan Dunia Kemiliteran Semakin Kompleks
Rabu 01 Agustus 2018

Panglima TNI : Spektrum Ancam ...

Syukuran Usai pelantikan RT RW warga Maccini Sombala Gerak Jalan Santai
Minggu 03 September 2017

Syukuran Usai pelantikan RT RW ...

PEMERINTAH SIAPKAN RP 55 MILIAR ATASI BANJIR SAMPANG
Kamis 02 Februari 2017

PEMERINTAH SIAPKAN RP 55 MILIA ...

Percepat Pelayanan, Mendagri Minta Tingkatkan Kualitas SDM
Senin 17 Oktober 2016

Percepat Pelayanan, Mendagri M ...

Sekda Berharap Bambu Memiliki Blok Sendiri di Taman Hutan Rakyat
Kamis 15 Desember 2016

Sekda Berharap Bambu Memiliki ...