Di Balik Majunya Agus Yudhoyono ke Pilgub Jakarta

Selasa 04 Oktober 2016 11:10:46 WIB Dilihat : 280 Kali


Di Balik Majunya Agus Yudhoyono ke Pilgub Jakarta

HALUANNEWS--Agus Harimurti Yudhoyono akhirnya mengisahkan secara lugas hal yang terjadi sehingga dia mengambil keputusan maju di Pemilihan Langsung Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017-2022. Agus menceritakan kisah itu saat berdialog dengan awak media massa di Restoran The Bistro, Raffles Hills, Cimanggis, Depok, Jabar, Senin (3/10/2016).

Awalnya, Agus menjelaskan, sepekan ini, setelah bersama Sylviana Murni, mendaftarkan diri ke KPUD sebagai Cagub dan Cawagub DKI Jakarta, ia harus melakukan banyak konsolidasi dan melengkapi berbagai persyaratan admininistrasi terkait pencalonannya. Sepekan ini pula, Agus Yudhoyono harus  melakukan transisi dari statusnya sebagai perwira militer di TNI AD (melepaskan jabatan Danyonif 203/Arya Kemuning).  Transisi tersebut tentu pula membutuhkan proses dan kelengkapan administratif. Hal-hal Itulah yang menyebabkan Agus Yudhoyono belum memiliki waktu berdialog khusus dengan para jurnalis.

Dalam masa itu pula, Agus Yudhoyono menyimak bahwa berita dari berbagai media kovensional dan sosial kerap muncul pertanyaan, “Mengapa Agus Yudhoyono meninggalkan kariernya (yang cemerlang) di TNI, setelah mengabdi selama 16 tahun?”

Agus Yudhoyono lantas menjelaskan, memang keputusan yang diambilnya bukanlah keputusan yang mudah. Tetapi  itu adalah keputusannya pribadi.

“Beredar dugaan, saya dipaksa; ditekan; bahkan lucunya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan Bu Ani disebut tega sekali memaksa anaknya masuk politik. Tuduhan itu menyakitkan. Saya kira, kita setuju, tidak ada orangtua yang ingin menyakitkan anaknya sendiri. Walaupun dramatis, itu adalah keputusan saya sendiri,” Agus Yudhoyono menegaskan.

Agus Yudhoyono lalu menceritakan, keputusannya meninggalkan TNI, demi maju Pilgub, berawal dari pemberitahuan orangtuanya melalui telepon pada 21 September malam. Agus Yudhoyono berada di Darwin, Australia, karena memimpin pasukannya latihan bersama dengan tentara angkatan darat Australia. Saat itu Agus Yudhoyono  dan pasukannya telah menyelesaikan latihan dan menjelang kembali ke Tanah Air.

Keesokan  hari, para prajuritnya diberi kesempatan pesiar, tetapi Agus Yudhoyono memutuskan tinggal di barak. Ia memikirkan secara dalam kabar yang disampaikan perihal situasi politik di Jakarta penuh dinamika dan polemik.

“Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, telepon dari Jakarta tersebut sangat mengejutkan. Akhirnya saya lakukan diskusi, lalu mencoba mencari petunjuk kepada Allah SWT. Saya dengar bahwa ada 4 parpol PPP, PKB, PAN dan Demokrat, termasuk berbagai kalangan masyarakat yang menginginkan saya berkenan diajukan sebagai Cagub DKI,” Agus menceritakan.

Dari kecil hingga dewasa Agus Yudhoyono ingin mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara. Untuk mewujudkannya ia memilih jalan dengan merintis karier di militer; TNI. Tetapi belajar dari TNI pula, Agus Yudhoyono memahami bahwa pengabdian bagi bangsa dan negara itu bisa di mana saja.

“Jika bisa membantu masyarakat yang lebih luas tentu itu sangat baik,” Agus Yudhoyono memaparkan.

Peliknya mengambil keputusan, membuat Agus Yudhoyono menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Setelah salat istikharah (salat sunah memohon petunjuk Allah SWT),  Agus menemukan petikan kalimat berbahasa Inggris di sebuah buku “Sesuatu yang sangat berat (dihadapi) jika kita gagal, tetapi lebih berat jika kita tak pernah mencoba untuk sukses”,  selanjutnya Agus juga menemukan petikan kalimat  “Di tengah hutan saya menemukan dua jalan. Saya memilih jalan yang jarang dilalui orang lain. Pilihan itulah yang mengubah hidup saya”.

Usai membaca dua petikan kalimat di atas, Agus Yudhoyono mengambil keputusan untuk menempuh jalan sunyi; jalan yang jarang dilalui orang. Agus Yudhoyono  siap  mengambil risiko: menang atau kalah dalam Pilgub DKI Jakarta.

Begitupun Agus Yudhoyono ingin mendengar langsung permintaan tersebut dari para pimpinan partai yang menginginkannya menjadi Cagub Jakarta. Agus Yudhoyono  ingin mengetahui secara pasti alasan keinginan itu.  Karena itu 22 September malam ia pulang ke tanah air dan tiba di Cikeas, kediaman SBY, 23 September dini hari.

Dan memang, ternyata, sejak awal, nama Agus Yudhoyono dimunculkan pimpinan tiga parpol (PPP, PKB, PAN). SBY bahkan tidak pernah menduga nama Agus Yudhoyono diusulkan karena Agus Yudhoyono masih aktif di militer.

“Saya sudah dewasa, saya punya kepribadian dan karakter sendiri. Tidak mungkin disetir atau dipaksa apalagi oleh orangtua sendiri. Saya juga bersyukur memiliki orangtua yang demokratis. Ketika lulus SMA, saya memutuskan masuk akadeami militer juga bukan karena paksaan orangtua,” Agus Yudhoyono menegaskan pendiriannya.

Agus Yudhoyono mengaku ia bersyukur memiliki orangtua sekaligus mentor seperti SBY, yang visioner sehingga bisa memperlihatkan padanya tentang momentum sejarah yang mungkin tidak terulang tetapi memiliki risiko besar bagi kehidupannya.

Tentu Agus Yudhoyono juga bicara dari hati ke hati dengan istrinya Annisa Pohan Yudhoyono perihal keputusannya.  Atas keputusan itu, Anissa bertanya, apakah Agus Yudhoyono siap meninggalkan karier yang ia bangun penuh kerja keras di separuh umurnya untuk sesuatu yang belum pasti?  Pertanyaan kedua, apakah Agus Yudhoyono bisa meluangkan waktu untuk Aira, putri mereka  yang baru berusia 8 tahun?  Anissa memastikan, jika Agus Yudhoyono bisa meyakinkannya maka ia siap mendukung suaminya 100 persen.

Setelah berdialog dengan keluarga, Agus Yudhoyono kembali memohon petunjuk Allah SWT. Ia kemudian meneguhkan diri dan mengatakan pada keluarganya, “Jika memang ini adalah garis tangan dan jalan yang harus saya tempuh dengan tujuan baik, insya Allah saya siap.”

“Itulah cerita yang sesungguhnya, bukan yang dipelintir, bukan versi lain. Tetapi saya memahami jika ada salah paham, missed understanding, mungkin juga buruk sangka, karena saya belum pernah menjelaskan secara langsung,” ujar Agus yang kemudian mengharapkan, setelah penjelasan ini maka masyarakat bisa memahami perihal yang sebenarnya.

Dialog Agus Yudhoyono dengan wartawan yang dipandu Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan dan Rico Rustombi, Juru Bicara Agus Yudhoyono, digelar usai Konsolidasi dan Pengarahan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang dihadiri Pengurus Dewan Pembina, Dewan Kehormatan, Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, dan Fraksi Partai Demokrat DPR-RI. Konsolidasi dan pengarahan terkait upaya memenangkan 101 Pilkada se-Indonesia 2017, termasuk Pilgub DKI Jakarta.


Tag Berita :
#koran indonesia #nasional #daerah #politik

Berita terakit :


Wali Kota Makassar ikut meriahkan jalan santai KAHMI
Senin 09 Oktober 2017

Wali Kota Makassar ikut meriah ...

ASR resmi rilis hasil survey Cabup Kerinci Hilir, berikut ini hasilnya
Jumat 06 Oktober 2017

ASR resmi rilis hasil survey C ...

Ini Ulasan Mengapa Mendagri Tak Berhentikan Sementara Ahok
Minggu 12 Februari 2017

Ini Ulasan Mengapa Mendagri Ta ...

ASN Dituntut Handal, Profesional dan Tangguh
Selasa 25 April 2017

ASN Dituntut Handal, Profesion ...

Meraih Kesuksesan Lewat Prestasi dan Sedekah
Selasa 24 Oktober 2017

Meraih Kesuksesan Lewat Presta ...