Pustakawati Tanjab Barat Pembicara Festival Perpustakaan Kemdikbud 2018

Sabtu 01 Desember 2018 09:57:12 WIB Dilihat : 1066 Kali


Pustakawati Tanjab Barat Pembicara Festival Perpustakaan Kemdikbud 2018

HALUANNEWS.COM, Jambi--Kartika Isnaini, Pustakawati asal SDN 173/V Tanjung Benanak Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi menjadi pembicara pada Festival Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), di Jakarta Jumat (30/11). SDN 173/V merupakan binaan Tanoto Foundation sejak 2010.
 
Dipilihnya Pustakawati asal Bumi Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan ini karena dianggap sosok inspirasi dalam berjuang membangun perpustakaan sekolah, sebab pada awal SDN yang berada di perkampungan transmigrasi SP3 sempat 14 tahun tidak memiliki perpustakaan yakni sejak 1996 hingga 2011.
 
“Keterbatasan ruang kelas dan tidak adanya buku bacaan membuat kami belum memikirkan perlu adanya perpustakaan sekolah,” kata Kartika Isnaini, Pustakawati SDN 173/V Tanjung Benanak saat, seperti rilis yang diterima HaluaNews dari perwakilan Tanoto Foundation Jambi, Jumat (30/11).
 
Inspirasi untuk membuat perpustakaan muncul pada akhir tahun 2011 setelah sekolahnya mendapat bantuan buku bacaan dan pelatihan mengembangkan budaya baca dari Tanoto Foundation. 
 
“Kami memanfaatkan toilet rusak berukuran 2 x 3 meter direnovasi menjadi perpustakaan sekolah. Ukurannya kecil tetapi kami menggerakkan budaya baca melalui perpustakaan ini. Buku-buku bacaan mulai kami sebarkan ke pojok-pojok baca di semua kelas. Saya pustakawati yang mengatur sirkulasi pembaruan bukunya,” tukasnya.
  
Kartika menyadari kunci keberhasilan meningkatkan budaya baca adalah penyediaan buku-buku bacaan baru yang berkelanjutan. Untuk itu dia bersama kepala sekolah dan para guru memikirkan cara untuk memperbarui buku disaat sekolah memiliki keterbatasan anggaran. Mereka mendapatkan empat gagasan yang langsung ditindaklanjuti.
 
Pertama, mendatangi kepala desa setempat untuk mendapatkan pinjaman buku perpustakaan desa. Hasilnya, sekolah mendapatkan pinjaman 200 buku bacaan persemester. Kedua melibatkan alumni untuk menyumbang satu buku bacaan sebelum mereka lulus. 
 
Ketiga, menganggarkan dana bos sekitar empat persen untuk membeli buku bacaan. Keempat, orang tua siswa dilibatkan untuk membelikan buku-buku kesukaan siswa. Buku itu setelah dibaca anaknya, mereka dapat saling bertukar buku dengan temannya.  “Dari upaya ini, setiap semester kami mendapat sekitar 400an buku bacaan baru,” katanya lagi. 
 
Upaya kreatif tersebut membuat para siswa memiliki banyak pilihan buku untuk dibaca. Buku-buku tersebut disebar ke setiap kelas agar siswa lebih mudah membacanya. Sekolah juga membuat program kampanye membaca setiap hari. Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2014 sebelum kebijakan membaca 15 menit dijalankan Kemdikbud. 
 
Inisiatif baik ini, membuat sekolah mendapat penghargaan dari Tanoto Foundation. Sekolah mendapat bantuan pembangunan perpustakaan baru berukuran 36 meter persegi yang dilengkapi lemari, mebeleir, dan buku-buku bacaan. Bantuan ini semakin membuat program budaya baca sekolah berkembang. Sekolah membuat jadwal rutin, setiap kelas wajib mengunjungi perpustakaan seminggu dua kali. Baik untuk kegiatan pembelajaran atau membaca rutin. 
 
Setelah siswa senang dan terbiasa membaca, sekolah memiliki program untuk mendorong siswa lebih memahami isi buku yang dibaca. “Bentuknya dengan melatih siswa menulis, menceritakan kembali isi buku, menggambar tokoh buku dalam poster, atau membuat kegiatan bedah buku,” kata Kartika.
 
Di sekolah ini, sejak kelas tiga para siswa juga sudah dibiasakan membuat buku cerita sendiri. Ide, gambar, dan isi ceritanya semua dari siswa. Guru membimbing mereka dalam proses pembuatannya. Setelah selesai dibuat, buku tersebut dijilid sendiri. Bukunya disimpan di pojok baca kelas dan juga di perpustakaan sekolah. “Ternyata buku buatan siswa juga menarik minat siswa lain untuk membacanya,” kata Kartika menunjukkan buku-buku hasil tulisan siswa.
 
Perjuangan Kartika bersama warga sekolah, berhasil menghadirkan fungsi dan peran perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Dari jurnal membaca yang ditulis oleh siswa, tampak dalam seminggu siswa membaca setidaknya 2-3 buku bacaan. Hal ini menunjukkan minat membaca siswa sudah berkembang dengan baik.  
 
Bahkan kegiatan literasi ini juga dikembangkan dalam pembelajaran. Misalnya, dalam membuat laporan percobaan IPA, siswa menulis laporannya dalam bentuk buku tutorial. Buku tersebut berisi tulisan siswa menceritakan alat dan bahan, cara kerja, sampai kesimpulannya setelah melakukan percobaan. 
 
Kini telah banyak buku tutorial yang dibuat siswa. Seperti buku tutorial tentang kincir angin, praktik membuat rangkaian listrik lampu lalu lintas, cara kerja parasut, simetri lipat, dan masih banyak lagi,” kata Kartika sambil menunjukkan buku-buku yang dibuat para siswanya. Dia juga menyebut keteladanan menjadi faktor penting keberhasilan dalam menumbuhkan minat membaca. “Saat meminta anak membaca, maka guru, kepala sekolah, dan orang tua juga harus membaca,” katanya lagi. 
 
SDN 173 Tanjung Benanak adalah salah satu mitra Tanoto Foundation. Sejak tahun 2010-2017, Tanoto Foundation membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, budaya baca, dan lingkungan sekolah di lebih dari 500 sekolah dasar di Provinsi Sumatera Utara, Jambi, dan Riau. 
 
Mulai tahun 2018, menurut Stuart Weston, Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, dukungan program peningkatan kualitas pendidikan dasar ini diperluas di Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.        
 
“Perluasan program juga mencakup di SD, MI, SMP, dan MTs. Targetnya dalam lima tahun ke depan ada lebih dari 12.000 sekolah dan madrasah yang mendapat manfaat program peningkatan kualitas pendidikan dasar Tanoto Foundation,” kata Stuart.
 
Sementara menurut Susanti Sufyadi dari Dirjen Pembinaan SD Kemdikbud, praktik baik yang diterapkan SDN 173 perlu disebarluaskan. Walaupun berada dipedalaman, mereka bisa menghadirkan kelas kaya literasi, perpustakaan bisa mendukung program literasi sekolah. Semua kelas kelas disediakan buku bacaan yang diperbarui rutin agar anak stimulus membaca. 
 
"Dalam pembelajaran siswa juga lebih banyak berpraktik dan menganalisa berbagai informasi. Bahkan mereka sampai membuat laporan dalam bentuk buku tutorial yang ditulis kata-kata siswa sendiri. Ini mengembangkan dimensi berpikir tinggi, ini bentuk pembelajaran HOTS, "kata Susanti. (rif) 

Tag Berita :
#InfoTerkini #KotaJambi #berita terkini indonesia #koran indonesia

Berita terakit :


Tertib Administrasi Lewat Aplikasi Online
Kamis 03 Agustus 2017

Tertib Administrasi Lewat Apli ...

Sejak Maba Asriyadi Punya Mimpi Jadi Ketua Dema FDK UIN Alauddin
Kamis 02 November 2017

Sejak Maba Asriyadi Punya Mimp ...

Sempat Dikira Orang Gila , Seorang Laki-Laki Ditemukan Tergeletak tak Bernyawa
Rabu 24 Januari 2018

Sempat Dikira Orang Gila , Seo ...

Garam, Banyak Manfaat.
Senin 26 Maret 2018

Garam, Banyak Manfaat.

Kapuspen TNI :  Tingkatkan Kualitas Personel Jajaran Penerangan Seiring Kemajuan Teknologi
Senin 03 September 2018

Kapuspen TNI : Tingkatkan Kua ...

 FESTIVAL Indonesia Festival (FESTinFest) 2017
Minggu 29 Januari 2017

FESTIVAL Indonesia Festival ( ...