Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Memberi Kebebasan pada Anak?

Selasa 07 Agustus 2018 23:19:23 WIB Dilihat : 38 Kali


Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Memberi Kebebasan pada Anak?

HALUANNEWS.COM--Seiring anak beranjak dewasa, mereka mulai menginginkan privasi sendiri. Selain sibuk dengan aktivitas di sekolah, anak juga perlu bersosialisasi bersama teman-temannya. Ketika anak masih kecil, orang tua dengan mudah memantau aktivitasnya. Namun ketika beranjak remaja, orang tua sering kesulitan memantau “kesibukan” mereka. Bahkan, sering kali rencana ideal orang tua terhadap anak terancam berantakan karena bentrok dengan keinginan anak. Saat hal ini terjadi, bagaimana sebaiknya orang tua memberi kebebasan pada anak?

Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu usia 12-13 tahun, anak mulai memasuki fase remaja. Fase inilah anak mulai merasa membutuhkan privasi, tidak lagi menceritakan hari-harinya di sekolah maupun saat bersama teman-temannya. Bahkan, bisa jadi mereka marah ketika orang tua bertanya tentang kegiatan mereka. Kalau sudah begini, biasanya orang tua yang ingin tahu terpancing untuk memata-matai anak di media sosial anak atau mengintip gawai anak.

Ketika orang tua “memata-matai” anak

Sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa 48 persen orang tua dari anak-anak usia 13-17 tahun telah membaca pesan teks anak-anak mereka. Sementara itu, 61 persen telah memantau situs mana yang dikunjungi anak-anaknya. Dalam sebuah penelitian yang disponsori oleh National Center for Missing & Exploited Children, 68 persen orang tua anak-anak usia 10-13 tahun mengatakan mereka memantau kegiatan telepon anak-anak mereka.

Beruntunglah bagi orang tua yang memiliki anak dengan sikap terbuka dan mau berbagi setiap saat. Akan tapi, jika anak sangat tertutup, orang tua harus mencari cara untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kehidupan anaknya. Di sisi lain, anak yang beranjak dewasa juga perlu memiliki kesempatan untuk menjaga privasinya.

Ini adalah keseimbangan yang rumit: bagaimana Anda memberi anak ruang untuk tumbuh dengan memberi kebebasan, sekaligus melindungi mereka. Tidak hanya dari bahaya yang Anda alami bersama, tapi juga dari dunia digital yang makin terbuka.

Menurut Devorah Heitner, PhD, penulis buku “Helping Kids Thrive (and Survive) in the Digital Age”, semakin Anda memata-matai anak-anak Anda, hal itu semakin mendorong anak untuk berbohong.

Deborah mencatat bahwa anak-anak mendambakan privasi dan akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Sebuah penelitian dari Belanda menemukan bahwa semakin banyak orang tua memantau mereka, semakin besar pula upaya yang dilakukan anak untuk menyembunyikan informasi. Hasilnya, orang tua menjadi putus asa karena informasi yang didapatkan menjadi lebih sedikit.

Kebebasan seperti apa yang sebaiknya diberikan pada anak?

Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua memberi kebebasan kepada anaknya? Di bawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan.

1. Tetap buat aturan ketika Anda memberikan ponsel

Era digital membuat anak terekspos smartphone lebih dini atau memang orang tua memutuskan untuk memberikan anak smartphone dengan alasan mempermudah informasi

Di satu sisi, orang tua ingin komunikasi dengan anak lebih mudah lancar. Namun, di sisi lain konsekuensinya anak jadi asyik sendiri dengan gawainya, karena bermain gim atau memakai media sosial. Orang tua pun jadi kesulitan mengawasi penggunaan gawainya.

Mengambil kembali smartphone yang Anda berikan dari tangan anak Anda bukanlah solusi yang tepat. Tapi cobalah terapkan aturan yang jelas. Misal, anak harus menyerahkan smartphone-nya saat belajar dan ketika sedang makan bersama keluarga di meja makan.

2. Terimalah bahwa Anda bukan lagi orang kepercayaan utama mereka

Pada usia 14 tahun, anak Anda mungkin mulai menutup pintu, menyimpan rahasia, bahkan lebih percaya saran dari teman-temannya ketimbang nasihat Anda. Menurut Lucie Hemmen, PhD, penulis “Parenting a Teen Girl”, anak-anak perlu mendapatkan jarak dari orang tua mereka untuk mengembangkan identitas pribadi.

Jarak ini merupakan bagian normal dari pertumbuhan, tapi ini bisa membuat orang tua merasa tidak dihargai. Cobalah untuk sedikit melunak. Semakin orang tua menunjukkan kepercayaan dan rasa menghargai, semakin banyak juga peluang anak untuk kembali kepada orang tua saat minta nasihat.

3. Jika Anda ingin memata-matai, beri tahu mereka

Setelah Anda mendiskusikan dengan mereka tentang gawai atau kehidupan mereka di media sosial, inilah waktunya untuk membuat penilaian. Jika anak menunjukkan bahwa ia menggunakan media sosial dengan tepat, Anda harus mulai ‘mundur’. Ini adalah indikasi bahwa anak dapat dipercaya dan dapat mematuhi aturan yang telah disepakati.

Namun, jika anak terjebak di media sosial, misalnya berkonflik dengan teman-temannya karena unggahan atau komentar tertentu, beri tahu ia bahwa Anda sebagai orang tua akan ikut mengawasinya demi keselamatan anak.

“Jangan berusaha untuk menutup-nutupi sesuatu jika ingin memantau aktivitas anak. Katakan dengan lugas, tanpa rasa menyesal bahwa ia harus membatasi penggunaan gawai atau mematikannya jika diperlukan, ujar Lucie.

4. Jangan usik buku harian anak

Bahkan di dunia digital ini, ada anak yang lebih suka menuliskan pemikiran mereka di atas kertas dalam buku harian. Jika Anda tanpa sengaja menemukannya ketika sedang membersihkan kamar anak, tahan dorongan untuk membuka dan membaca buku hariannya. Ingat, apa pun yang tertulis di sana adalah percakapan anak yang dengan dirinya sendiri, bukan pemikiran yang bisa seenaknya dibagi.

“Ekspresi diri paling penting bagi remaja dan salah satu hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk perkembangan emosional mereka adalah dengan menuliskan pemikiran dan perasaan mereka,” kata Lucie. Dia menambahkan bahwa membaca pikiran-pikiran rahasia ini menempatkan orang tua dalam posisi yang tidak netral.

5. Bersikap tegas jika Anak mulai melenceng

Jika tiba-tiba anak Anda dalam bahaya, misalnya mulai menyakiti orang lain atau terlibat dalam perilaku berbahaya, Anda berhak untuk memata-matainya. Jika Anda melihat perubahan dalam suasana hati dan perilaku anak Anda, misalnya dia mulai tidur berlebihan, gagal secara akademis, tidak mau makan, atau mengisolasi diri dari teman-temannya, mulailah mencari tahu lewat ponselnya.

Tanyakan padanya apakah Anda boleh melihat ponselnya, atau dia lebih ingin membicarakan apa yang sedang terjadi. Berikan penjelasan kepada anak bahwa yang orang tua lakukan adalah semata karena rasa khawatir dan sayang. Biasanya, anak dapat menerima penjelasan tersebut.

Bagaimanapun, komunikasi orang tua dengan anak tetap perlu dipelihara meski sedang diwarnai konflik. Berikan kesempatan kepada anak untuk berkembang dengan memberi kebebasan kepadanya. Di sisi lain orang tua juga harus tetap mengawasi anak.

Sumber : www.klikdokter.com


Tag Berita :
#InfoTerkini #berita terkini indonesia #koran indonesia #keluarga #kesehatan

Berita terakit :


Pembukaan Seminar ESQ Dilingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cianjur
Minggu 27 Agustus 2017

Pembukaan Seminar ESQ Dilingku ...

Bupati Batanghari Ir.H.Syahirsah.SY Menyampaikan Nota Pengantar Tujuh Rancangan Peraturan Daerah
Sabtu 03 Februari 2018

Bupati Batanghari Ir.H.Syahirs ...

Jambore Kader Kota Surabaya
Rabu 17 Mei 2017

Jambore Kader Kota Surabaya

Gubernur Zola Perjuangkan Kebutuhan Infrastruktur Jambi Kepada Komisi VI DPR- RI
Rabu 03 Agustus 2016

Gubernur Zola Perjuangkan Kebu ...