Ideologi Pancasila Tidak Boleh Bergeser Satu Milimeter pun

Rabu 30 Maret 2016 22:03:42 WIB Dilihat : 440 Kali


Ideologi Pancasila Tidak Boleh Bergeser Satu Milimeter pun

HALUANNEWS- Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia semakin hari menghadapi ujian yang tidak ringan dengan bermunculannya gerakan-gerakan menyimpang atau radikal, seperti ISIS dan Gafatar. Sebab, gerakan-gerakan itu mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Problem idelologi harus kita kawal untuk kita tuntaskan. Pancasila, UUD 45, NKRI tidak bisa ditawar. Jika kita masih mendengar keterlibatan warga bangsa di ISIS atau Gafatar (misalnya), itu menjadi pekerjaan rumah kita,” tandas Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP dalam Upacara Dies Natalis ke-51 Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Auditorium Unnes, Rabu (30/3).

Ganjar membeberkan, hingga kini masih ada eks-Gafatar dari luar Provinsi Jawa Tengah yang tidak kembali ke daerah asalnya karena ada penolakan untuk tinggal di daerah asalnya. Dia pun mengambil alih dengan mengizinkan tinggal di Jateng dan memberikan pembinaan bagaimana berbangsa dan bernegara dengan baik. Pemprov mau mengambil alihnya karena mereka tetap Warga Negara Indonesia dan pemerintah punya tanggungjawab mengayominya.

“Kita perlu persepsi yang sama bagaimana mengelola anak bangsa untuk bisa berbangsa dan bernegara dengan baik,” ujarnya.

Ganjar mengapresiasi Unnes yang menyelenggarakan program bela negara untuk mahasiswa barunya. Dia berharap, seluruh civitas akademika, bisa memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat bahwa NKRI harga mati dengan nilai-nilai Pancasila yang dimiliki.

“Kita harapkan seluruh civitas akademika bisa terjun ke masyarakat, memberikan penyuluhan, sosialiasi bagaimana harga mati berbangsa dan bernegara dengan nilai-nilai (Pancasila) yang kita miliki itu tidak boleh bergeser satu millimeter pun,” katanya tegas.

Sementara itu, Mantan Presiden RI Susilo Prof Bambang Yudhoyono dalam orasi ilmiahnya menyampaikan, di tengah dunia yang sedang bergolak, warga negara Indonesia (WNI) harus punya jatidiri, identitas, dan prinsip. Itu semua sudah tertuang dalam dasar negara yang selama ini dianut, yakni Pancasila.

“Saya harus mengatakan, setelah berkeliling dunia selama 10 tahun sebagai presiden, 5 tahun sebagai menteri, 30 tahun sebagai DPRD, menurut pandangan saya, Pancasila is the best. Jangan pernah ragu mengatakan itu,” tuturnya.

SBY tidak mengingkari, bahwa kemajemukan di Indonesia rentan memunculkan kerawanan, dan demokratisasi yang sudah ditempuh bisa menimbulkan instabilitas. Karenanya, tantangan itu harus bisa dikelola dengan baik agar persatuan dan kesatuan bisa dibangun dengan kokoh. Dengan begitu, akan memunculkan kerja keras bersama, menghasilkan daya saing tinggi dan menumbuhkan kepemimpinan di semua lini yang memiliki visi.

Sebagai informasi, dalam Upacara Dies tersebut, Unnes memberikan penghargaan kepada lima tokoh yang berjasa dalam berbagai bidang konservasi. Yakni kepada Prof Dr Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tokoh konservasi nilai kebangsaan (Upakaratama Reh Adiwangsa), H Muhammad Nasir MSi Akt PhD sebagai tokoh konservasi nilai inovasi dan hilirisasi (Upakarti Udyakarya Guna), Prof Dr H Muhammad Nuh DEA sebagai tokoh konservasi nilai kepedulian sosial (Upakara Bagyaning Sasama), Prof Dr Ir Riri Fitria Sari MSc MM sebagai tokoh konservasi nilai sumber daya alam (Upakara Dayaning Bawana), dan DR (HC) Rita Subowo sebagai tokoh konservasi nilai keolahragaan (Upakara Bhirawa Santosa).

editor : hi


Tag Berita :
#nasional #beasiswa #presiden #kampus #politik

Berita terakit :


 STIKES Muhammadiyah Sidrap Akan Mewisuda 433 Alumni
Senin 09 Oktober 2017

STIKES Muhammadiyah Sidrap Ak ...

Reformasi Birokrasi Harus Terasa Pada Perbaikan Layanan Publik
Selasa 06 Februari 2018

Reformasi Birokrasi Harus Tera ...

Ketum Dharma Pertiwi :  Anggota Persit KCK Harus Peka Terhadap Bahaya Narkoba
Kamis 01 Maret 2018

Ketum Dharma Pertiwi : Anggot ...