Pembangunan Kawasan Industri Perlu Dibarengi Pendirian Politeknik

Minggu 10 September 2017 21:24:27 WIB Dilihat : 62 Kali


Pembangunan Kawasan Industri Perlu Dibarengi Pendirian Politeknik

HALUANNEWS.COM--Pembangunan kawasan industri perlu diiringi dengan pendirian sekolah vokasi seperti Politeknik atau Akademi Komunitas. Upaya ini guna mendapatkan dengan mudah tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan industri-industri di kawasan tersebut.

Demikian disampaikan Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Singapura, Jumat (8/9). “Kami telah memfasilitasi pembangunan politeknik di beberapa kawasan industri di luar Jawa, seperti di Morowali, Sulawesi Tengah yang dijadikan pusat pengembangan industri feronikel,” ujar Menperin.

Dalam pertemuan tersebut, Menperin didampingi Duta Besar Indonesia untuk SingapuraNgurah Swajaya,membahas secara teknis mengenai upaya kerja sama Pemerintah Indonesia dan Singapura dalam bidang peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta kerja sama di sektor industri pengolahan yang dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan kedua negara.

Pada kesempatan itu, Menperin juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Singapura atas penyelenggaraan Leader’s Retreat yang berjalan sukses dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura.

Menurut Menperin, pihaknya akan membuka dua politeknik industri pada tahun ini, yakni Politeknik khusus industri furniture di Kendal, Jawa Tengah dan Akademi Komunitas Industri Logam di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Pada tahun 2018, Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi pembangunan politeknik pendukung di kawasan industri Dumai dan kawasan industri Batu Licin.

Di Kawasan Industri Kendal (KIK), Airlangga menjelaskan, pelaku industri Indonesia dan Singapura melalui PT Jababeka Tbk dan Sembcorp Development Ltd telah bersinergi mengembangkan kawasan industri terpadu di kota Jawa Tengah tersebut dengan standar internasional.

“Sampai Agustus 2017, realisasi nilai investasi di KIK telah mencapai Rp4,7 triliun dengan 33 investor yang berasal dari Indonesia, Singapura, Malaysia, China dan Jepang dengan menyerap 5.000 tenaga kerja,” paparnya. KIK yang diresmikan oleh Presiden Jokowi dan PM Singapura Lee Hsien Loong pada 14 November 2016 lalu, ditargetkan menyerap potensi investasi hingga Rp200 triliun dan tenaga kerja sebanyak 500 ribu orang.

Menperin menegaskan, Singapura merupakan mitra strategis dan investor terbesar di Indonesia. Pada 2016 lalu, nilai investasi dari Negeri Singa ini tercatat mencapai USD9,2 miliar atau di atas Jepang dan Tiongkok dengan memiliki 5.874 proyek.

Kemenperin mencatat, nilai investasi Singapura sebesar 30,9 persen dari total investasi asing di Indonesia pada sektor industri. Investasi ini menciptakan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 126.293 orang. “Bahkan, Singapura tengah mengeksplorasi kesempatan investasi pada sektor industri di wilayah luar Jawa,” ungkap Airlangga.

Oleh karena itu, lanjutnya, Kemenperin mendorong pengembangan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus guna menarik para investor Singapura menamamkan modalnya di tiga wilayah tersebut, yang berhadapan langsung dengan Negeri Singa. “Dengan perbaikan iklim usaha di BBK, akan kembali meningkatkan investasi industri pengolahan dengan nilai tambah tinggi,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan infrastruktur di Batam untuk memacu pengembangan ekonomi digital. Kawasan ini akan menjadi pusat bagi sejumlah pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film dan animasi.

“Sedangkan, di Bintan tengah dikembangkan Airport and Aerospace Industry Park di atas lahan seluas 4000 hektare,” tutur Airlangga. Kawasan aviasi terpadu ini akan menjadi yang terlengkap di Indonesia dengan beberapa fasilitas penunjang seperti bandara, sarana perbaikan pesawat, pelatihan pegawai penerbangan, serta area kawasan bisnis dan residensial.

Raih LKY Fellow

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendapatkan penghargaan Lee Kuan Yew Exchange Fellow (LKY Fellow) ke-56. Penghargaan berupa medali emas ini diserahkan langsung oleh Chairman of the LKY Fellow, Eddie Teo. “Alhamdulillah, saya bersyukur dan berterima kasih atas pemberian penghargaan ini,” ujar Menperin di Singapura, Jumat malam (8/9).

Menurut Eddie Teo, penganugerahan ini telah berjalan sejak tahun 1991 kepada individu di seluruh dunia yang dipilih berdasarkan rekam jejak maupun potensi yang luar biasa untuk berkontribusi kepada negaranya dan menjalin hubungan bilateral yang baik dengan Singapura. Penghargaan ini juga telah diberikan kepada para tokoh Indonesia, antara lain Sri Mulyani tahun 2003 dan Kuntoro Mangkusubroto tahun 2006.

“LKY Fellow ini diberikan kepada Bapak Airlangga karena telah mampu mentransformasikan prioritas pengembangan industri berbasis pendidikan vokasi yang menguatkan hubungan antara Indonesia dan Singapura. Contohnya, dalam pengembangan kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah, yang merupakan model sinergi yang bisa direplikasi di berbagai tempat oleh pemerintah dan pelaku industri kedua negara,” paparnya.

Eddie Teo juga menyebutkan, beberapa alasan kuat pihaknya memberikan penghargaan LKY Fellow  kepada Menperin Airlangga, antara lain keterlibatannya dalam Singapore-Indonesia Leaders’ Retreat dan kontribusinya dalam proyek-proyek vital kedua negara, seperti MoU kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi industri antara Kementerian Perindustrian RI dengan Kementerian Pendidikan (Pendidikan Tinggidan Keterampilan).

Selanjutnya, sejak menjabat sebagai Menteri Perindustrian RI pada Juli 2016, Airlangga fokus pada peningkatan nilai tambah industri dan penciptaan iklim bisnis yang mendukung pelaku usaha. “Selain itu mendorong inovasi, bersamaan dengan Indonesia yang sedang mempersiapkan sektor manufakturnya memasuki era Industry 4.0,” imbuhnya.

Sebagai pelaku bisnis yang berpengalaman, menurut Eddie Teo, Airlangga juga mampu mendorong sinergi antara sektor publik dan privat untuk menciptakan ekosistem industri yang positif bagi Indonesia. “Untuk itu, kehadiran Bapak Airlangga ke Singapura diharapkan dapat membuka area baru untuk diskusi dan kerja sama yang akan menguntungkan kedua negara,” ungkapnya.

Di tengah kegiatan kunjungan kerjanya di Singapura, Menperin juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singpura Vivian Balakrishnan. Keduanya membahas mengenai upaya pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). “Mereka tertarik dengan konsep Santripreneur yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian dan berharap bisa ada kerja sama pola pengembangan untuk penumbuhan wirausaha barU,” tutur Airlangga. Menperin juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia mendukung Singapura menjadi Ketua ASEAN periode berikutnya.

Kemudian, didampingi Menteri Pendidikan (Pendidikan Tinggidan Keterampilan) Singapura, Ong Ye Kung, Menteri Airlangga melakukan peninjauan ke Nanyang Politektik untuk melihat langsung pengembangan engineering dan penerapan teknologi informasi di salah satu kampus unggulan di Singapura tersebut. Kunjungan ini sekaligus mempelajari tentang penerapan pendidikan vokasi.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menyaksikan penandatanganan MoU tentang Kerja Sama Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Industri yang dilakukan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto mewakili Pemerintah Indonesia serta Menteri Pendidikan (Pendidikan Tinggidan Keterampilan) Ong Ye Kung mewakili Pemerintah Singapura di Singapura, Kamis (7/9). Kegiatan ini dalam rangkaian acara Leader’s Retreat sekaligus peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura.(*)


Tag Berita :
#Info #berita terkini indonesia #koran indonesia #nasional #ekonomi

Berita terakit :


Dekranas Siapkan Jambi Menjadi Sentra Boneka
Selasa 29 Agustus 2017

Dekranas Siapkan Jambi Menjadi ...

Walikota Tinjau Pengorekan Sungai Selayang
Rabu 05 Oktober 2016

Walikota Tinjau Pengorekan Sun ...

Menperin Ajak Asosiasi Tumbuhkan Wirausaha Baru IKM
Kamis 06 Oktober 2016

Menperin Ajak Asosiasi Tumbuhk ...

Diplomasi Sukses, Prancis Batalkan Pajak Progresif Sawit
Jumat 05 Agustus 2016

Diplomasi Sukses, Prancis Bata ...